“BURUH DAN KAPITAL : Dimana posisi mahasiswa?”

Pada hari ini, Senin, 30 April 2012, saya mencoba menghadiri sebuah “Diskusi Angkringan Sore Hari” yang di gagas oleh departemen PUSGERAK BEM UI pada pukul. 16.00 di belakang Gedung Komunikasi FISIP UI. Adapun tema diskusi yang diangkat adalah “BURUH DAN KAPITAL : Dimana posisi mahasiswa?” dengan menghadirkan tiga pembicara : (1) Hizkia Yosie Polimpung merupakan Manajer Program Pacivis UI, serta dosen HI UI. (2) Irwansyah atau bisa dipanggil akrab dengan ‘Mas Jemi’ oleh mahasiswa FISIP UI, Mas Jemi merupakan Sekjen Perhimpunan Rakyat Pekerja, serta sebagai Peneliti di Puskapol UI. (3) Gianto, merupakan peneliti di FAHAM Indonesia yang dahulu ketika mahasiswa merupakan anggota Pusgerak BEM UI 2007.

Tema diskusi ini coba diangkat untuk memperingati May Day yang merupakan hari buruh internasional. May Day berasal dari peristiwa yang terjadi di Chichago tahun 1886. Chichago kala itu merupakan salah satu negara yang memiliki kaum buruh cukup banyak. Singkatnya pada waktu itu, May 1886, telah terjadi pengumpulan masa besar-besaran untuk membahas pembatasan jam kerja karena ketika itu tidak ada pembatasan jam kerja. Penataan jam kerja amat sangat bar-bar, sehingga dipengumpulan masa besar-besaran itulah dibuat tuntutan pembatasan jam kerja. Hingga akhirnya kini kita mengenal pengorganisasian waktu kerja yang mana disetiap hari sabtu dan minggu libur.

Menurut Mas Jemi bahwa buruh itu lebih perlu patut dikasihani daripada budak. Budak wajar selalu dipaksa untuk bekerja, jika Ia mati maka tidak apa-apa (dibiarkan) karena memang kemerdekaannya adalah milik majikan. Sedangkan buruh, buruh adalah manusia merdeka. Namun buruh menjadi manusia jenis baru dalam sejarah peradaban pada masa kapitalis dimana buruh dipaksa untuk terus bekerja (dihisap sampai habis) namun dalam keesokan harinya masih harus dituntut untuk hidup lagi dipagi hari untuk bekerja kembali (sungguh sangat miris).

“Struktur kelas itu ada dua : proletar dan pemilik modal” – Teori Marx

Maka yang menjadi permasalahan, dimanakah posisi mahasiswa? Pastinya disetiap kelas selalu ada golongan yang akan membela kelasnya dan disetiap kelas selalu memiliki kepentingan yang kontradiktif. Inilah yang memicu pertarungan antar kelas. Melihat kondisi buruh yang senantiasa mendapatkan ketidakadilah sudah seharusnya para mahasiswa harus menyadari bahwa dirinya adalah pada posisi mendukung kelas buruh. Sebagaimana Tan Malaka yang dahulunya bukanlah seorang ekonom apalagi aktivis. Ia adalah seorang pendidik. Namun setelah Ia mengetahui bahwa pendidikan dikontaminasi oleh kapitalis maka Ia masuk ke dalam pemberian pencerdasan kesadaran kelas bagi kelasnya. Maka dari sini kita sebagai mahasiswa seharusnya sudah dapat menjawab sudah sedekat apakah kita pada posisi kelas buruh? Menurut Gianto, Ya, kini pendidikan kita telah masuk ke dalam struktur kapitalis. Lihat saja kini pendidikan kita hanya memiliki satu tujuan berupa ‘masuk lapangan pekerjaan’ untuk menjadi pendukung utama kapitalis atau mencetak kapitalis baru.

“Kini gerakan mahasiswa harus difahami dinamis, perlu dibuat gerakan baru yang inklusif yang melibatkan elemen yang ada” –Gianto

Maksud dari Mas Gianto adalah sudah seharusnya kini gerakan mahasiswa bukan lagi dipahami gerakan lama yang berupa gerakan sipil terkait isu jatuh bangun rezim. Saat ini demokrasi telah mapan. Kita perlu membuat suatu gerakan yang inklusif bukan ekslusif. Buat gerakan sesuai masanya. Gerakan baru yang inklusif inilah yang mampu menjawab seberapa dekat kita kepada kaum buruh. Ya, seharusnya mahasiswa mampu membangun paradigma baru melibatkan elemen yang ada seperti buruh dan tani. Bukan saatnya lagi membuat gerakan seperti dahulu yang bergerak hanya sendiri, mahasiswa saja.

Untuk itu maka kita harus mampu membedakan antara kaum kapitalisme dan kaum proletar di era moderm ini. Jadi sebenarnya yang disebut dengan seorang kapitalis adalah mereka yang memiliki kontrol terkait kapitalis itu sendiri. Di dunia ini yang memiliki kontrol kapitalis hanyalah 1% penduduk. Jadi jangan didefinisikan individu yang punya atm dia adalah kapitalis. Kata kunci dari kapitalis itu sendiri adalah “power” kapitalis.

“Bukan kapitalnya yang salah, melainkan relasi kapital” –Irwansyah

Sebagai penutup diskusi Mas Irwansyah mencoba menyimpulkan bahwa sebenarnya bukanlah kapital yang salah selama ini melainkan relasi kapital. Karena dalam melakukan produksi pastinya kita membutuhkan kapital, yang menjadi masalah bukan kapitalnya melainkan relasi kapital yang terjadi yang cendrung tidak adil dan tidak humanis.

Kesimpulan :

Adapun dalam kesimpulan diskusi hari ini adalah bahwa sejak tahun 1886 hingga kini permasalahan kaum buruh masih belum mampu diatasi, masih banyak terjadi ketidak adilan dan de humanisasi. Untuk itu sudah seharusnya mahasiswa mampu menjadi agen perubahan melalui gerakan mahsiswanya yang baru yang lebih inklusif dengan mengajak berbagai elemen buruh, tani, dsb.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s