Ibnu Khaldun dan Peluangnya dalam Perbaikan Negara

Oleh : Dian Setyawati

949d9e436ef1467926c2dacf5f9040b2_XL

Patung Ibnu Khaldun

Ibnu Khaldun, nama itu pastinya sudah sangat populer sekali ditelinga kita khususnya ditelinga masyarakat muslim. Nama tersebut pun telah banyak dibicarakan dikalangan intelektual barat. Menurut S.Colosia (1974) mengemukakan bahwa pendapat-pendapat Ibnu Khaldun tentang kehidupan sosial menjadikannya sebagai pionir ilmu filsafat sejarah, pemahamannya terhadap -peranan kerja, kepemilikan dan upah- menjadikannya juga sebagai salah satu Bapak Ekonomi. Adapun menurut DR. Bryan S. Turner, Guru Besar Sosiologi University of Aberdeen, Scotland, bahwa tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Inggris.

Ibnu Khaldun dan Keluarganya

Ibnu Khaldun lahir di Tunisia pada 1 Ramadhan 732 Hijriah atau 1332 Masehi. Ia berasal dari keluarga ulama dan politisi yang terkenal dan berpengaruh. Keluarganyanya berasal dari Andalusia yang selanjutnya hijrah ke Tunisia. Kakeknya bernama Khalid bin Usman adalah pria pertama yang masuk ke Andalusia bersama Pasukan Arab, Dinasti Abassiyah. Pun jika ditelaah lebih lanjut, menurut Enan (1896) kakek Ibnu Khaldun yang lainnya pun juga merupakan politikus seperti Muhammad Bin Abu Bakar sebagai Menteri Hijabah, dan Abu Bakar bin Muhammad sebagai Menteri Keuangan. Namun ayah Ibnu Khaldun, yaitu Abu Abdillah Muhammad tidak tertarik dalam politik dan memilih untuk menjadi ulama.

Ibnu Khaldun dan Pemerintahan Barquq

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah nya pada pasal 25 menjelaskan bahwa hakikatnya kerajaan cendrung mengarah kepada kediktatoran. Hal ini dikarenakan raja dipilih beradasarkan kekuatan dan kemampuannya sehingga seorang raja biasanya diktaktor, otoriter, memaksakan kehendak para bahawannya, berbuat dzalim kepada orang yang dipimpinnya dan memberikan beban berat yang sulit dipikul kepada para rakyatnya.

Kediktaktoran, otoriter, dan kedzaliman raja ini dirasakan Ibnu Khaldun selama masa hidupnya. Himmish (2002) menceritakan bahwa Ibnu Khaldun tinggal pada masa pemerintahan seorang raja yang dzalim bernama Barquq. Hal yang paling menonjol pada masa pemerintahan Raja Barquq adalah keangkuhannya sebagai raja, pemberian pajak yang memberatkan rakyat, serta maraknya penjualan jabatan-jabatan penting di dalam negara kepada orang yang mampu membeli jabatan tersebut.

Pada masa pemerintahan Raja Barquq, Ibnu Khaldun menempati posisi sebagai Hakim Maliki. Untuk penempatan posisi ini berbeda dengan kasus penempatan yang lainnya, yakni tidak melalui penjual-belian jabatan. Posisi hakim tersebut diberikan kepada Ibnu Khaldun dikarenakan ia memang sudah sangat terkenal karena kecerdasannya sehingga Raja Barquq memberikan posisi hakim tersebut. Selain menjadi hakim, Ibnu Khaldun pun diberi tugas untuk menjadi dosen dibeberapa universitas terkemuka dikotanya.

Image

Interior Makam Barquq

Bencana Besar Timur Lenk di Era Raja Barquq

Bencana besar mulai muncul di Era Raja Barquq, yakni terdengar desas desus Timur Lenk akan datang melawat ke kerajaannya. Kabar ini benar-benar menghawatirkan raja beserta jajarannya dan juga seluruh rakyat. Informasi bahwa setiap kota yang di serang Timur Lenk pastilah akan kalah. Timur Lenk dengan kekuatan prajurit serta perlengkapan perangnya yang lengkap mampu dengan mudah meluluh lantahkan kota yang ia inginkan. Ketakutan Raja Barquq akan kekalahan melawan Timur Lenk inilah yang akhirnya membuatnya untuk memanggil Ibnu Khaldun guna memberikan saran.

Kabar akan datangnya Timur Lenk membuat Raja Barquq mengalami sakit dan hanya dapat berbaring ditempat tidur. Pada kondisi sakit ini, Raja Barquq mengundang Ibnu Khaldun dan beberapa penasihat lainnya untuk memberikan masukan terkait arah pemerintahan kedepan guna menyiapkan perlawanan dengan Timur Lenk. Undangan inilah yang pada akhirnya dijadikan momen bagi Ibnu Khaldun guna mendakwahi Raja Barquq dan menghilangkan ketidakadilan serta kesewenang-wenangan yang dilakukan selama ini.

Menurut Himmis (2002), di akhir malam, akhir bulan Shafar 799, Ibnu Khaldun menerima undangan untuk berkunjung ke Istana Raja Barquq. Ibnu Khaldun melihat Barquq dengan matanya yang redup dengan alis serta jenggot yang tidak teratur dan terawat lagi. Tanda-tanda tua dini tampak di bagian tubuhnya yang lain, menunjukkan kepada orang-orang bahwa ancaman Mongol, Timur Lenk, telah menggerogoti otak dan anggota tubuhnya. Bahkan acaman ini membuatnya tidak bisa tidur dan menebarkan rasa takut dan insomnia di malam-malamnya. Dengan suara lemah dan buruk, akhirnya Raja Barquq meminta fatwa kepada Ibnu Khaldun tentang tindakan apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi sang tiran dari Mongol, Timur Lenk.

Rahasia Kekuatan Timur Lenk

Timur Lenk

Timur Lenk

Pada posisi sebagai cendikia yang dimintai fatwa, Ibnu Khaldun pun mencoba menjabarkan informasi yang ia dapatkan dengan waktu yang tidak sedikit terkait rahasia kekuatan dan strategi kemenangan Timur Lenk saat mengalahkan kota-kota lain. Secara keturunan, Timur Lenk berasal dari Mongol garis keturunan Tatar. Tradisi invansi dan pemaksaan memang telah berlaku sejak lama di zaman Genghis Khan dan di ikuti oleh berbagai keturunan-keturunannya. Diantara keturunan Mongol, Tatar, tak ada yang lebih kuat melebihi Timur Lenk. Hal ini dikarenankan dalam menjalankan misi menguasai dunia, Timur Lenk memiliki dua hal yakni pengetahuan dan strategi. Ia tidak akan melakukan invansi membabi buta tanpa pengetahuan.

Strategi Mengalahkan Timur Lenk dan Peluang Menghentikan Ketidakadilan

Ibnu Khaldun sebenarnya telah mengetahui bahwa kotanya yang di pimpin oleh Raja Barquq tidak akan mampu untuk mengalahkan serangan dari Timur Lenk. Namun, Ibnu Khaldun mencoba untuk tidak mengatakan itu dan tetap mengatakan secara optimis kepada Raja bahwa kesempatan untuk menang itu masih ada jika seluruh potensi dimaksimalkan.

Maka Ibnu Khaldun pun mencoba memberikan masukan kepada Raja Barquq, masukan ini pada akhirnya merupakan sebuah strategi kemenangan sekaligus peluang untuk menghentikan ketidakadilan yang di alami oleh masyarakat di era kepemimpinan Raja Barquq. Adapun usulan-usulan yang diberikan Ibnu Khaldun kepada Raja Barquq adalah sebagai berikut (Himmis, 2010) :

1.Penguatan Barisan Internal

Penguatan barisan internal dapat dilakukan melalui penerapan keadilan yang merupakan penopang kekuasaan. Hilangkan sogok dan suap karena dapat merusak akhlak dan nilai-nilai, hilangkan kedzaliman karena kedzaliman merupakan tanda keruntuhan peradaban, dan perlakukan rakyat dengan adil oleh pemimpinnya karena dengannya mereka akan menghormati dan mencintai pemimpinnya sehingga dengannya mudah mengajak rakyat berperang melawan musuhnya.

2.Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat

Hal ini dapat dilakukan melalui membuka kantor-kantor derma dan infaq bagi rakyat, hal ini membuat rakyat sejahtera sehingga raja akan dengan mudah mendapatkan mujahid yang siap berada dibarisannya untuk berjuang. Lantas dari manakah tambahan uang diperoleh padahal pendapatan tidaklah banyak. Tambahan pendapatan dapat diperoleh dilemari-lemari orang kaya, karena pundi-pundi kemewahan dan kemegahan banyak terpusat disana. Adapun batasan-batasan dalam berderma ini adalah : (1) berhati-hati untuk tidak mengganggu makanan rakyat miskin, (2) jangan tingkatkan pajak dari profesional dan petani, (3) berhati-hatilah untuk tidak membuat orang lebih sengsara dari sebelumnya.

3.Perkuat hubungan dengan Gubernur dan Para Pejabat Daerah

Yakni melalui saling memberi hadiah. Saling memberi hadiah adalah tanda adanya hubungan dan investasi perdamaian. Serta saling berkirim suratlah, khususnya kepada pemimpin daerah yang angkuh.

Dari sini kita dapat melihat bahwa adanya upaya Ibnu Khaldun untuk memberikan saran terbaik dalam mengalahkan Timur Lenk sekaligus melakukan perbaikan negaranya. Ibnu Khaldun senantiasa memperjuangkan nasib rakyat yang ketika itu benar-benar tertindas. Peran yang coba Ia lakukan sebagai seorang cendikia selama pemerintahan Raja Barquq adalah memberikan saran sesuai dengan nilai Islam, sesuai dengan permasalahan, dan selalu mencari celah agar upaya-upaya perbaikan rakyat terhimpun dalam saran yang Ia berikan.

Referensi :

Ibnu Khaldun. (2001). Mukaddimah. Beirut: Dar Al-Kitab Al’Arabi

Enan, M. A. (1896). Ibnu Khaldun : Riwayat Hidup dan Karyanya. Malaysia: Mihas Grafik Sdn.

Himmish, B. (2010). Ibnu Khaldun Sang Maha Guru. Ciputat: Lentera Hati.

Iklan

“BURUH DAN KAPITAL : Dimana posisi mahasiswa?”

Pada hari ini, Senin, 30 April 2012, saya mencoba menghadiri sebuah “Diskusi Angkringan Sore Hari” yang di gagas oleh departemen PUSGERAK BEM UI pada pukul. 16.00 di belakang Gedung Komunikasi FISIP UI. Adapun tema diskusi yang diangkat adalah “BURUH DAN KAPITAL : Dimana posisi mahasiswa?” dengan menghadirkan tiga pembicara : (1) Hizkia Yosie Polimpung merupakan Manajer Program Pacivis UI, serta dosen HI UI. (2) Irwansyah atau bisa dipanggil akrab dengan ‘Mas Jemi’ oleh mahasiswa FISIP UI, Mas Jemi merupakan Sekjen Perhimpunan Rakyat Pekerja, serta sebagai Peneliti di Puskapol UI. (3) Gianto, merupakan peneliti di FAHAM Indonesia yang dahulu ketika mahasiswa merupakan anggota Pusgerak BEM UI 2007.

Tema diskusi ini coba diangkat untuk memperingati May Day yang merupakan hari buruh internasional. May Day berasal dari peristiwa yang terjadi di Chichago tahun 1886. Chichago kala itu merupakan salah satu negara yang memiliki kaum buruh cukup banyak. Singkatnya pada waktu itu, May 1886, telah terjadi pengumpulan masa besar-besaran untuk membahas pembatasan jam kerja karena ketika itu tidak ada pembatasan jam kerja. Penataan jam kerja amat sangat bar-bar, sehingga dipengumpulan masa besar-besaran itulah dibuat tuntutan pembatasan jam kerja. Hingga akhirnya kini kita mengenal pengorganisasian waktu kerja yang mana disetiap hari sabtu dan minggu libur.

Baca lebih lanjut

19 Maret 2010 Yang Penuh Dengan Ukhuwah

Photo 1 : Ini adalah kue ulang tahun ku yang ke 20 tahun. Kue ini adalah kue pemberian saudara-saudara terbaik ku di FISIP ; Tomy Setyo, Arini Dwi, Halimah Afifah, Nurul Latifah, dan Sisca Kezia.

Photo 2 : Saat mereka memberikan kejutan kue ulang tahun kepada saya. Mereka benar-benar mengetahui saya menyukai kue tart. Disebelah kiri halimah, tengah sisca, dan kiri arini. Tomy ada disebelahhijab, dia ga mau ikutan berfoto bersama kami, karena memang ada adab-adabnya. Nurul juga tidak ikut berfoto, dikarenakan masih ada agenda rapat diluar. Sayang sekali.

Baca lebih lanjut

#BAB 3 : Kekuatan Imajinasi Bagi Bangsa Yahudi

Tulisan ini bersumber dari sebuah buku berjudul Jerome Becomes A Genius sebuah buku yang berisi rahasia-rahasia kecerdasan orang Yahudi. Buku ini merupakan karya Eran Katz, Pemegang Guinness Book of World Record for Memory Stunts. Saya akan mencoba berbagi inti dari tulisan ini sehingga rekan-rekan yang tidak memiliki buku ini tetap mendapatkan hikmah dari buku ini. Pada bagian ini, saya akan coba jabarkan inti sari Buku Jerome Becomes A Genius pada bab 3. Selamat membaca.

Apa yang kau lihat itulah yang kau tangkap. Apa yang kau tidak lihat, berarti tidak ada.

Bagi bangsa Yahudi, imajinasi tidak hanya lebih kuat dari kenyataan, tapi juga lebih kuat dari logika. Dengan kata lain, sesuatu yang tidak logis bisa menjadi logis dengan bantuan imajinasi kreatif. Albert Einstein pun mengakui bahwa hanya dengan bantuan imajinasi Ia mencapai teori relativitasnya. Dalam otobiografi Einstein, Ia menyatakan bahwa visi adalah hal yang memungkinkan dia mengembangkan teori relativitas.

Solomon Shershevsky, seorang Yahudi berkebangsaan Rusia, dia mampu menginggat segala hal dengan menggunakan teknik asosiatif berdasarkan imajinasinya yang gila. Misalnya, Solomon Shershevsky dapat menginggat daftar kata-kata yang tak bermakna yang pernah ia dengar hanya dalam sekali baca dan mengulangi keseluruhan daftar dari awal sampai akhir. Lebih dari delapan tahun kemudian, ketika ditanya oleh psikolog bernama A.L. Luria, apakah dia masih ingat kepada daftar itu, Solomon Shershevsky mampu menyebutkannya kembali seluruhnya dengan sempurna. Padahal Solomon Shershevsky tidak pernah memikirkan daftar itu lagi selama delapan tahun lebih. Setelah para psikolog soviet mulai mempelajari ingatannya, mereka menemukan bahwa rahasiannya adalah didasari oleh teknik mengintensifkan aplikasi dari semua pancaindra.

Mengapa kemampuan itu dapat dikuasai? Bangsa Yahudi mampu mengembangkan kemampuan imajinatif kreatif seperti itu dikarenakan mereka tidak punya pilihan. Lebih daripada bangsa-bangsa lain, mereka tahu bahwa hanya imajinasi yang dapat menyelamatkan mereka dari kenyataan kehidupan mereka yang suram, disiksa dan dianiaya sepanjang sejarah. Maka kemampuan imajinasi itu tidak hanya di gunakan untuk meraih cita, tapi juga untuk menginggat.

Berikut adalah kutipan buku harian Viktor Frankl saat mengalami masa-masa sulitnya sebagai bangsa Yahudi :

“Seluruh bagian kakiku memar-memar parah karena sepatuku rusak. Hampir menangis karena rasa sakit. Aku berjalan dalam barisan panjang ‘mayat hidup’ dari kamp menuju tempat kerja paksa kami. Embusan angin dingin menusuk dan menampar-nampar kami saat aku memikirkan masalah-masalah remeh agar hidup kami yang sengsara tidak berakhir di sini. Makanan apa yang akan kami dapatkan malam ini? Apakah akan ada saus tambahan, yang bisa kutukar dengan sepotong roti tambahan? Aku benci keadaan ini, yang memaksaku merenungkan hal-hal sepele seperti itu. Hari demi hari, jam demi jam. Aku memaksa pikiranku mengembara ketempat lain. Tiba-tiba aku melihat diriku berdiri di podium dalam sebuah ruang kuliah yang indah dengan penerangan yang bagus dan hangat. Seorang pendengar yang penuh perhatian duduk di depanku, di kursi berjok elegan dan nyaman. Aku memberikan kuliah psikologi mengenai kamp-kamp konsentrasi. Semua kenyataan yang kini dengan begitu berat di bebankan padaku menjadi terasa jauh dan objektif, seperti ilmu pengetahuan. Dengan cara begitu, entah bagaimana aku berhasil mengangkat kepedihan dari kenyataan hidupku, memandangnya seakan-akan itu hanya masa lalu. Masalah-masalah dan diriku sendiri menjadi subjek proyek penelitian ilmiah psikologiku sendiri”

Itu adalah kutipan buku harian Viktor Frankl. Di luar dugaan, imajinasi Frankl menjadi kenyataan. Viktor Frankl, bapak Logoterapi dan salah seorang psikolog paling penting abad ke-21. Sejak dibebaskan dari Auschwitz, ia telah diundang untuk memberikan kuliah mengenai hari-harinya disana ke lebih 138 universitas di seluruh dunia. Pemikiran-pemikiran Frankl yang imajinatif merupakan sumber kekuatannya untuk bertahan hidup. Benar-benar contoh yang luar biasa.

Jadi, orang-orang Yahudi memiliki bakat untuk hidup hanya dengan ide-ide imajinatif semata, seakan-akan ide itulah fakta nyata sebenarnya.

Negara Israel juga merupakan gagasan utopis, buah dari imajinasi gila Theodor Herzel.

Akhir kata, jika kita dapat membayangkan kenyataan berbeda, meninggalkan semua logika dan kesempatan, maka bisa jadi kita dapat wujudkan kenyataan itu. Mari kita mulai tetapkan sasaran-sasaran yang sangat tidak realistis, kemudian pikirkan secara praktis mengenai bagaimana kita bisa mencapainya, karena segalanya pasti mungkin tercapai. Wujudkanlah yang tidak mungkin dengan cara-cara yang mungkin.

Salam,

Menguak Kecerdasan Bangsa Yahudi

Tulisan ini bersumber dari sebuah buku berjudul Jerome Becomes A Genius sebuah buku yang berisi rahasia-rahasia kecerdasan orang Yahudi. Buku ini merupakan karya Eran Katz, Pemegang Guinness Book of World Record for Memory Stunts. Saya akan mencoba berbagi inti dari tulisan ini sehingga rekan-rekan yang tidak memiliki buku ini tetap mendapatkan hikmah dari buku ini. Pada bagian ini, saya akan coba jabarkan inti sari Buku Jerome Becomes A Genius pada bab 1 dan 2. Selamat membaca.

Siapakah yang mula-mula mengatakan bahwa orang Yahudi sangat pintar? Apakah itu sekedar stigma, atau ada sesuatu dalam pernyataan itu? Bagaimana mitos itu bisa berkembang dan apakah itu valid secara akademis? Padahal setiap bangsa memiliki orang yang kuat atau lemah, baik atau buruk, cerdas atau bodoh. Tentu saja selalu ada orang – orang Keristen, Muslim, dan Hindu yang lebih cerdas atau sukses dibandingkan banyak orang Yahudi.

Memang banyak juga tokoh di luar yahudi yang cerdas, baik dari agama Islam, Kristen, Budha, maupun Hindu. Seperti Ibnu Sina, Isaac Newton, Copernicus, Leonardo da Vinci, dan Mahatma Gandhi. Lalu, mengapa stereotip orang yahudi itu memiliki otak cerdas begitu melekat? Itu karena populasi Yahudi di dunia begitu kecil, namun memiliki pengaruh besar di dunia.

Salah satu contoh agar tidak terlalu panjang saya jabarkan. Pada tahun 2000, populasi Yahudi di dunia hanya berjumlah 13 juta orang atau hanya 0,25% dari enam miliar penduduk dunia. Sebagai ilustrasi saja, dari sekitar 270 tokoh penerima hadiah Nobel yang diberikan sejak 1901, 102 orang adalah tokoh Yahudi.

Atau kita bisa melihat contohnya dari para tokoh Yahudi seperti Albert Einstein (Penemu atom), Mark Zuckerberg (Penemu Facebook), Sergrey Brin dan Larry Page (Pencipta mesin pencari google), Steven Spielberg (Sutradara Kondang), George Soros (Pakar Keuangan). Itu belum seberapa, malah beberapa tokoh Yahudi namanya sudah menjadi merek terkenal di dunia dan digandrungi banyak orang. Mulai dari bisnis parfum sampai otomotif, antara lain Estee-Lauder (parfum), Ralph Lauren (pakaian), Levi Strauss (celana jeans), dan Adam Citroen (merek mobil).

Apa pun itu, fakta kecil ini cukup mengejutkan. Bukan untuk memuji, apalagi mengagungkan, namun kenyataan ini menarik untuk diungkap. Bagaimana orang Yahudi bisa dikonotasikan sebagai bangsa yang cerdas. Kalau begitu, kenapa tidak jika kita juga belajar rahasia bangsa Yahudi yang membuatnya cerdas.

Baca lebih lanjut