KEPERCAYAAN ADALAH LANDASAN DARI KEPEMIMPINAN

KEPERCAYAAN ADALAH LANDASAN DARI KEPEMIMPINAN

Oleh : Dian Setyawati

Rabu, 22 Juni 2011. Pkl. 22.56

Bahasan yang ingin saya angkat kali ini adalah mengenai kepercayaan bagi seorang pemimpin. Seberapa pentingkah kepercayaan bagi seorang pemimpin? Ya, itu adalah hal terpenting. Kepercayaan adalah landasan dari kepemimpinan.

Sebagai suatu bangsa, kita telah menyaksikan kepercayaan kita kepada para pemimpin naik dan turun beberapa dekade terakhir ini. Lihat saja tingkah laku yang dilakukan oleh para pemimpin negeri ini, kasus korupsi semakin lama semakin terkuak. Hingga pada akhirnya, saya dapat menjamin bahwa pemilu yang akan dilakukan selanjutnya pastinya akan memunculkan angka golput yang tinggi jika tidak ada tokoh pemimpin yang berkarakter dan dapat dipercaya. Ulah satu dua orang kader partai telah meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap partai sebagai naungan yang lebih besar. Hingga pada akhirnya seluruh masyarakat menilai bahwa seluruh kader partai adalah ‘kotor’ sama sekali tidak ada yang ‘bersih’. Pen-generalisasian yang dilakukan masyarakat ini adalah wajar, coba saja lihat, hampir setiap hari di berita-berita pasti kasus korupsi dan kebobrokan pemimpin akan selalu disiarkan. Setiap hari berita-berita negatif disiarkan maka menimbulkan kepercayaan kepada pemimpin hilang. Hal baik yang diciptakan lebih banyak tertutupi dengan kebobrokan kinerja pemerintah.

Kepercayaan adalah seperti uang receh di saku pemimpin. Setiap kali kita membuat keputusan kepemimpinan yang baik, maka kita akan mendapatkan lebih banyak uang receh. Setiap kali kita membuat keputusan yang buruk, maka kita harus membayar uang receh kita kepada orang yang telah kita sakiti. Semua pemimpin memiliki sejumlah uang receh dalam saku mereka saat mereka mulai berada dalam kedudukan kepemimpinan yang baru. Apapun yang kita lakukan, entah menambah uang receh atau mengurangi uang receh. Jika kita sebagai seorang pemimpin terus-menerus membuat keputusan yang buruk, maka kita harus membayar dengan uang receh kita. Lalu suatu hari, setelahh membuat keputusan terakhir yang buruk, mereka tiba-tiba -dan tidak bisa diperbaiki lagi- kehabisan uang receh. Tidak peduli apakah kesalahan itu besar atau kecil. Pada saat itu, itu sudah terlambat. Karena saat kita kehabisan uang receh maka dapat dikatakan kita berhenti sebagai seorang pemimpin sebab kepercayaan orang lain kepada kita telah habis.

Sebaliknya jika seorang pemimpin yang terus menerus membuat keputusan-keputusan yang baik dan terus mencetak kemenangan bagi organisasi mengumpulkan uang receh. Kemudian seandainya mereka melakukan suatu kesalahan besar, mereka masih memiliki banyak sisa uang receh.

LALU, BAGAIMANA PEMIMPIN MEMBANGUN KEPERCAYAAN?

Bagaimana seorang pemimpin membangun kepercayaan? Yakni secara konsisten menunjukkan kemampuan, hubungan, dan karakter.

Dalam bukunya The 21 Irrefutable Laws of Leadership, John C Maxwell mengatakan bahwa :

Orang-orang akan memaafkan kesalahan-kesalahan tertentu berdasarkan pada kemampuan, khususnya jika mereka dapat melihat bahwa Anda sedang bertumbuh sebagai seorang pemimpin. Dan mereka akan memberi Anda waktu untuk belajar. Tetapi mereka tidak akan mempercayai seseorang yang telah gagal dalam karakter. Dalam bidang itu, kegagalan sekali saja bersifat fatal.”

Craig Weatherup, yang pensiun sebagai Ketua Pendiri dan Direktur Utama dari PEPSI BOTTLING GROUP, mengakui :

Orang-orang akan bertoleransi terhadap kesalahan-kesalahan yang jujur, tetapi jika Anda melanggar kepercayaan mereka, sangat sulit bagi Anda untuk memperoleh kembali kepercayaan mereka. Itulah sebabnya, Anda harus memperlakukan kepercayaan sebagai modal yang paling berharga. Anda dapat membodohi atasan Anda tetapi Anda tidak akan pernah dapat membodohi rekan dan bawahan Anda.”

Adapun Jenderal H. Norman Schwarzkopf merujuk pada kepentingan dari karakter :

Kepemimpinan adalah suatu kombinasi yang kuat antara strategi dan karakter. Kalaupun Anda ingin menghilangkan satu, maka hilangkan saja strategi Anda, tetapi jangan pernah hilangkan karakter Anda. Sebab karakter memungkinkan adanya kepercayaan dan kepercayaan memungkinkan adanya Kepemimpinan. Ini adalah hukum landasan yang mantap.”

BAGAIMANA MENGUKUR KEPERCAYAAN YANG TELAH KITA BANGUN?

Bagaimana Anda mengukur kepercayaan yang telah Anda bangun? Melalui seberapa jauh mereka terbuka kepada Anda. Apakah mereka terbuka membagikan pandangan terhadap Anda – bahkan pandangan negatif? Apakah mereka menceritakan kabar buruk sebebas kabar baik? Apakah mereka mengizinkan Anda mengetahui apa yang terjadi dalam bidang-bidang yang menjadi tanggung jawab mereka? Jika tidak mereka mungkin tidak mempercayai Anda.

Bagaimana dengan rekan-rekan sekerja Anda dan pemimpin Anda? Apakah mereka secara konsisten mempercayai Anda? Bagaimana Anda dapat mengukur kepercayaan mereka? Melalui seberapa besar tanggung jawab yang mereka percayakan kepada Anda. Jika Anda secara teratur memikul tanggung jawab yang besar, itu adalah suatu tanda bahwa Anda dapat di andalkan. Jika tidak, maka Anda perlu mencari tau entah mereka meragukan kemampuan atau karakter Anda.

APA YANG DAPAT DIKERJAKAN UNTUK MENGEMBANGKAN KARAKTER

Untuk mengembangkan karakter, Anda perlu memusatkan perhatian pada tiga bidang utama : integritas, otentisitas, dan disiplin. Untuk mengembangkan integritas Anda, buatlah komitmen pada diri Anda untuk menjadi sangat jujur. Jujurlah bahkan ketika itu menyakitkan. Untuk menjadi otentisitas, jadilah diri sendiri untuk berhadapan dengan semua orang. Jangan bermain politik, bersandiwara, atau berpura-pura menjadi seseorang yang bukan diri Anda. Untuk menguatkan disiplin Anda, lakukanlah hal-hal yang benar setiap hari terlepas dari bagaimana pun perasaan Anda.

JIKA TELAH MELANGGAR KEPERCAYAAN

Jika Anda telah melanggar kepercayaan dengan orang lain pada masa lalu, maka Kepemimpinan Anda akan merosot sampai Anda berusaha meluruskan segala sesuatu. Pertama, mintalah maaf kepada orang-orang yangt telah Anda lukai atau khianati. Jika Anda dapat memberikan ganti rugi maka lakukanlah. Dan berkomitmenlah untuk bekerja keras demi mendapatkan kembali kepercayaan mereka. Semakin besar pelanggarannya, semakin lama prosesnya. Masalahnya bukan bagaimana dapat mempercayai Anda kembali. Masalahnya terletak bagaimana Anda dapat memperolehnya kembali.

Referensi :

1.Robert Shaw, “Though Trust”, Leader to Leader, Winter 1997, 46-54.

2.Russell Duncan, Blue-Eyed Child of Fortune ( Athens : University of Georgia Press, 1992 ), 52-54

3.Robert S. McNamara bersama Brian Van DeMark, In Retrospect: The Tragedy and Lessons of Vietnem

( New York : Times Books, 1995 ).

4.Maxwell. Jhon, The 21 Irrefutable Laws of Leadership, Immanuel 2007

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s