Heaven On Earth (Kaka Hy) : Temanku di Minggu ke-3 Januari 2012

Heaven on Earth karangan Kaka Hy yang diterbitkan oleh penerbit gagas media adalah salah satu novel yang menjadi teman saya di kala liburan Januari 2012 ini.  Tepatnya novel ini menjadi teman di minggu ke-3 Januari 2012.

Ini adalah novel yang bertemakan ‘keluarga’. Di novel ini ada dua tokoh utama ; Carla dan Lorent. Kedua tokoh ini memiliki kesamaan, yakni sama-sama memiliki masalah keluarga.

Carla adalah anak perempuan yang menjalani hidupnya tanpa seorang ayah, karena ayahnya telah meninggal. Hal tersebut membuat Ibu Carla berperan sebagai seorang Ayah yang senantiasa mencari nafkah, dan Carla di tuntut untuk berperan menjadi seorang Ibu yang harus bertanggung jawab penuh menjaga adiknya bernama Alon.

Masa-masa remaja sulit Ia jalani dengan sewajarnya akibat harus mengurusi adiknya di tiap detik. Kisah percintaan semasa SMA nya gagal akibat adiknya selalu menjadi ‘penghancur utama’ kisah cintanya dengan pria yang dia idamkan. Eskul musik yang digelutinya pun terancam runyam karena adiknya selalu ‘ribut’ sehingga membuat Carla tidak bisa fokus dalam menggarap musiknya. Belum lagi adiknya selalu merusak benda-benda berharga kesayangannya.

Hal ini membuatnya amat sangat membenci adiknya karena Ia merasa adiknya telah menggagalkan semua kehidupan remajanya. Tuntutan peran sebagai Ibu ini, membuat Carla ibarat burung kecil yang baru terbang, namun dunia telah menyuruhnya untuk belajar semua hal dalam waktu singkat. Puncak konflik ini pada akhirnya terjadi ketika Carla mulai menuntut kebebasannya kepada Ibunya. Ia letih selalu menjaga adiknya dan Ia letih selalu di nomor duakan dibandingkan adiknya.

Lorent adalah teman baik Carla. Masalah yang Lorent hadapi adalah terkait perceraian kedua orang tuanya. Dalam menjalani kehidupan selepas perceraian, Lorent menjalani hidupnya di dua alam. Jika senin-kamis Ia tinggal dirumah Ibunya, dan Jumat-Minggu tinggal dirumah Ayahnya. Ia melakukan itu dalam rentan waktu cukup lama. Hingga akhirnya Ia letih hidup di dalam ketidakjelasan ini.

Maka Ia memutuskan untuk meng-akurkan kembali kedua orang tuanya. Tapi sayang, ternyata Ayah Lorent sudah memiliki pendamping hidup lain dan telah berencana untuk menikah. Konflik semakin menjadi ketika Lorent sebagai seorang remaja masih belum mampu menerima kenyataan Ayahnya akan menikah dengan wanita lain dan justru Ibu Lorent malah menyetujui keputusan mantan suaminya tersebut. Mulailah Lorent semakin binggung untuk memahami bagaimana pola pikir orang dewasa itu sebenranya.

Kesimpulan dari cerita ini adalah bahwa hidup itu memang tidak selalu selamanya sempurna. Khususnya jika dikaitkan dengan persoalan keluarga. Untuk itu dalam menghadapi ketidaksempuranaan ini kita terkadang harus benar-benar mampu ‘mengerti’ dan ‘memahami’ posisi orang tua kita, tidak hanya melihat ke diri sendiri saja. Walau sulit, tetapi kondisi ini benar-benar menuntut kita mampu bersikap dewasa lebih awal. Dan dalam novel ini benar-benar di gambarkan secara detail, kondisi psikologis seorang remaja yang tidak stabil akibat konflik orangtua mereka.

Selanjutnya yang terpenting adalah bahwa apapun bagaimanapun keluarga kita sekarang, itulah jalan terbaik yang diberikan Tuhan. Dia telah memberikan kita jalan. Kita harus mensyukurinya, karena tentu kita tak tahu apa rencana (baik) Tuhan. Apapun yang terjadi, bagaimana pun masalahnya, keluarga adalah harta karun termewah yang dimiliki seseorang maka Ia harus senantiasa menjaganya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s