#BAB 3 : Kekuatan Imajinasi Bagi Bangsa Yahudi

Tulisan ini bersumber dari sebuah buku berjudul Jerome Becomes A Genius sebuah buku yang berisi rahasia-rahasia kecerdasan orang Yahudi. Buku ini merupakan karya Eran Katz, Pemegang Guinness Book of World Record for Memory Stunts. Saya akan mencoba berbagi inti dari tulisan ini sehingga rekan-rekan yang tidak memiliki buku ini tetap mendapatkan hikmah dari buku ini. Pada bagian ini, saya akan coba jabarkan inti sari Buku Jerome Becomes A Genius pada bab 3. Selamat membaca.

Apa yang kau lihat itulah yang kau tangkap. Apa yang kau tidak lihat, berarti tidak ada.

Bagi bangsa Yahudi, imajinasi tidak hanya lebih kuat dari kenyataan, tapi juga lebih kuat dari logika. Dengan kata lain, sesuatu yang tidak logis bisa menjadi logis dengan bantuan imajinasi kreatif. Albert Einstein pun mengakui bahwa hanya dengan bantuan imajinasi Ia mencapai teori relativitasnya. Dalam otobiografi Einstein, Ia menyatakan bahwa visi adalah hal yang memungkinkan dia mengembangkan teori relativitas.

Solomon Shershevsky, seorang Yahudi berkebangsaan Rusia, dia mampu menginggat segala hal dengan menggunakan teknik asosiatif berdasarkan imajinasinya yang gila. Misalnya, Solomon Shershevsky dapat menginggat daftar kata-kata yang tak bermakna yang pernah ia dengar hanya dalam sekali baca dan mengulangi keseluruhan daftar dari awal sampai akhir. Lebih dari delapan tahun kemudian, ketika ditanya oleh psikolog bernama A.L. Luria, apakah dia masih ingat kepada daftar itu, Solomon Shershevsky mampu menyebutkannya kembali seluruhnya dengan sempurna. Padahal Solomon Shershevsky tidak pernah memikirkan daftar itu lagi selama delapan tahun lebih. Setelah para psikolog soviet mulai mempelajari ingatannya, mereka menemukan bahwa rahasiannya adalah didasari oleh teknik mengintensifkan aplikasi dari semua pancaindra.

Mengapa kemampuan itu dapat dikuasai? Bangsa Yahudi mampu mengembangkan kemampuan imajinatif kreatif seperti itu dikarenakan mereka tidak punya pilihan. Lebih daripada bangsa-bangsa lain, mereka tahu bahwa hanya imajinasi yang dapat menyelamatkan mereka dari kenyataan kehidupan mereka yang suram, disiksa dan dianiaya sepanjang sejarah. Maka kemampuan imajinasi itu tidak hanya di gunakan untuk meraih cita, tapi juga untuk menginggat.

Berikut adalah kutipan buku harian Viktor Frankl saat mengalami masa-masa sulitnya sebagai bangsa Yahudi :

“Seluruh bagian kakiku memar-memar parah karena sepatuku rusak. Hampir menangis karena rasa sakit. Aku berjalan dalam barisan panjang ‘mayat hidup’ dari kamp menuju tempat kerja paksa kami. Embusan angin dingin menusuk dan menampar-nampar kami saat aku memikirkan masalah-masalah remeh agar hidup kami yang sengsara tidak berakhir di sini. Makanan apa yang akan kami dapatkan malam ini? Apakah akan ada saus tambahan, yang bisa kutukar dengan sepotong roti tambahan? Aku benci keadaan ini, yang memaksaku merenungkan hal-hal sepele seperti itu. Hari demi hari, jam demi jam. Aku memaksa pikiranku mengembara ketempat lain. Tiba-tiba aku melihat diriku berdiri di podium dalam sebuah ruang kuliah yang indah dengan penerangan yang bagus dan hangat. Seorang pendengar yang penuh perhatian duduk di depanku, di kursi berjok elegan dan nyaman. Aku memberikan kuliah psikologi mengenai kamp-kamp konsentrasi. Semua kenyataan yang kini dengan begitu berat di bebankan padaku menjadi terasa jauh dan objektif, seperti ilmu pengetahuan. Dengan cara begitu, entah bagaimana aku berhasil mengangkat kepedihan dari kenyataan hidupku, memandangnya seakan-akan itu hanya masa lalu. Masalah-masalah dan diriku sendiri menjadi subjek proyek penelitian ilmiah psikologiku sendiri”

Itu adalah kutipan buku harian Viktor Frankl. Di luar dugaan, imajinasi Frankl menjadi kenyataan. Viktor Frankl, bapak Logoterapi dan salah seorang psikolog paling penting abad ke-21. Sejak dibebaskan dari Auschwitz, ia telah diundang untuk memberikan kuliah mengenai hari-harinya disana ke lebih 138 universitas di seluruh dunia. Pemikiran-pemikiran Frankl yang imajinatif merupakan sumber kekuatannya untuk bertahan hidup. Benar-benar contoh yang luar biasa.

Jadi, orang-orang Yahudi memiliki bakat untuk hidup hanya dengan ide-ide imajinatif semata, seakan-akan ide itulah fakta nyata sebenarnya.

Negara Israel juga merupakan gagasan utopis, buah dari imajinasi gila Theodor Herzel.

Akhir kata, jika kita dapat membayangkan kenyataan berbeda, meninggalkan semua logika dan kesempatan, maka bisa jadi kita dapat wujudkan kenyataan itu. Mari kita mulai tetapkan sasaran-sasaran yang sangat tidak realistis, kemudian pikirkan secara praktis mengenai bagaimana kita bisa mencapainya, karena segalanya pasti mungkin tercapai. Wujudkanlah yang tidak mungkin dengan cara-cara yang mungkin.

Salam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s